Postingan

Dasar-Dasar Tasawuf

Sebaiknya setiap orang yang akan memulai membahas satu cabang ilmu hendaknya memahami pandangan umum atau pendahuluannya sebagai gambaran sebelum ia masuk ke dalamnya agar bisa memahami dengan jelas dan tidak kabur. Penggambaran tersebut tidak akan jelas melainkan dengan mengetahui 10 dasar-dasar ilmu sebagaimana dijelaskan bait syair berikut: إِنَّ مَبَـادِى كُلِّ فَنِّ عَشْـرَةٌ     اَلْحَدُّ الْمَوْضُوْعِ ثُـمَّ الثَّمَـرَةُ وَفَضْـلُهُ وَنَسَـبُهُ وَالْوَاضِعُ  اْلإِسْمُ وَالْإِسْتِمْدَادُ حُكْمُ الشَّارِعِ مَسَآئِلُ وَالْبَعْضُ بِالْبَعْضِ اكْتَفَى وَمَنْ دَرَى الْجَمِيْعَ حَازَ الشَّرَفَا Sesungguhnya dasar setiap disiplin ilmu adalah 10: definisi, tema, manfaat, keutamaan, korelasi, nama, landasan, hukum, dan probematikanya. Barang siapa mengetahui semuanya maka ia telah memperoleh kemuliaan. #حَدُّ التَّصَوُّفِ # عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ أَحْوَالُ النَّفْسِ مَحْمُوْدُهَا وَمَذْمُوْمُهَا وَكَيْفِيَةُ تَطْهِيْرِهَا مِنَ الْمَذْمُوْمِ مِنْهَا وَتَحْلِيَّتُهَا بِالإِ...

Tujuh Huruf Yang Tidak ada di surat Al Fatihah

Bismillahir rohmaanir rohiim Suatu ketika Qoishor raja romawi mengirim surat kepada kholifah Umar bin al-Khoththob RA, yang isi surat tersebut demikian: "Kami menemukan dalam kitab suci kami yaitu injil, barang siapa yang  membaca sebuah surat yang padanya tidak terdapat TUJUH huruf berikut,  maka baginya syurga, ketujuh huruf itu adalah: Tsa/الثاء, Jim/الجيم,  Kho/الخاء, Zay/الزاى, Syin/الشين, Zho/الظاء dan Fa/الفاء. Kami telah  mencarinya dalam injil namun kami tidak menemukannya, kami mohon pada  kalian agar mencarinya dalam kitab suci kalian (al-qur'an), apakah surat  tersebut terdapat disana?". Ketika Sayyidina Umar selesai membaca surat dari raja Qoishor, ia mengabarkan hal tersebut pada para sahabat Rosulillah SAW. Maka berkata Ubay bin Ka'b : "Wahai Amiril Mu'minin, sesungguhnya surat  pembuka dalam qur'an/surat al-fatihah, didalamnya tidak terdapat  ketujuh huruf yang disebutkan". Maka kemudian Sayyidina Umar RA  membalas surat dari ...

Bahasan orang munafiq dimasjid

Diriwayatkan hadits yang dinisbatakan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam : المؤمن في المسجد كالسمك في الماء، والمنافق في المسجد كالطير في القفص “Seorang mukmin itu di masjid seperti Ikan dalam Air, sedangkan seorang Munafik didalam masjid itu seperti burung dalam sangkar”. Al-‘Alamah Ismail al-‘Ajluuniy (1087 – 1162 H) rahimahullah dalam kitabnya “Kasyful Khufaa`” (II/355) membawakan hadits diatas lalu beliau berkomentar : لم أعرفه حديثًا، وإن اشتهر بذلك، ويشبه أن يكون من كلام مالك بن دينار؛ فقد نقل المناوي عنه أنه قال: “المنافقون في المسجد كالعصافير في القفص” “aku tidak mengetahui ini sebagai hadits, sekalipun sangat masyhur. Ini mirip dengan ucapan Malik bin Diinaar yang dinukil oleh al-Munawiy dari Malik bin Diinaar bahwa beliau berkata : “orang-orang munafik itu didalam masjid seperti burung didalam sangkar”. Dalam situs resmi yang dibimbing oleh asy-Syaikh Alawiy bin Abdil Qodir as-Saqaaf pun mengatakan : ﻟﻴﺲ ﺑﺤﺪﻳﺚ “Bukan hadits”. ( https://dorar.net/fake-hadith?page=40...

BERKAITAN ‎سمع ‏الله ‏لمن ‏حمده ‏

وَالسَّبَبُ فِي سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ «أَنَّ الصِّدِّيقَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مَا فَاتَتْهُ صَلَاةٌ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَطُّ، فَجَاءَ يَوْمًا وَقْتَ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَظَنَّ أَنَّهَا فَاتَتْهُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَاغْتَمَّ بِذَلِكَ وَهَرْوَلَ وَدَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَوَجَدَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مُكَبِّرًا فِي الرُّكُوعِ فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَبَّرَ خَلْفَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَنَزَلَ جِبْرِيلُ وَالنَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الرُّكُوعِ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُلْ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ» . وَفِي رِوَايَةٍ «اجْعَلُوهَا فِي صَلَاتِكُمْ» . فَقَالَهَا عِنْدَ الرَّفْعِ مِنْ الرُّكُوعِ، وَكَانَ قَبْلَ ذَلِكَ يَرْكَعُ بِالتَّكْبِيرِ وَيَرْفَعُ بِهِ فَصَارَتْ سُنَّةً مِنْ ذَلِكَ الْوَقْتِ بِبَرَكَةِ الصِّدِّيقِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ “Dan sebab pada perkataan “Sami’a Allah liman hamidah” a...

Teks Khutbah jumat kedua

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِ...

Mamum masbuq dan muwafiq

Gambar
MAKMUM BELUM SELESAI FATIHAH IMAM SUDAH RUKUK Sebenarnya sudah berkali – kali nulis tentang ini tapi masih juga banyak yang kesulitan memahami. Kuncinya, harus bisa membedakan antara makmum masbuq dan makmum muwafiq. Coba kita poinkan biar mudah tanya jawabnya. Masbuq  adalah makmum yang jarak antara takbiratul ihramnya dia dengan rukuknya imam tidak cukup digunakan membaca Alfatihah dengan lengakap Muwafiq  adalah makmum yg memiliki cukup waktu untuk membaca Alfatihah terhitung mulai dia takbir hingga imam bergerak menuju rukuk. Makmum masbuq tidak boleh menyelsaikan Alfatihah, tetapi harus rukuk mengikuti imam sampai dia yakin bisa tumakninah rukuk bersamaan dengan tumakninah rukuknya imam. Jika makmum masbuq tidak bisa tumakninah bersama imam, misalnya ia baru menuju rukuk sedangkan imamnya menuju bangun, maka satu rakaat makmum tidak terhitung. Sehingga nanti wajib menambah satu rakaat. Jika makmum masbuq memaksakan diri melanjutkan Alfatihah sedangkan imam sudah bangun da...

Kesunahan dalam pernikahan

Setidaknya ada dua manfaat kebaikan dalam penabuhan rebana di dalam pernikahan ini Publikasi (mengumumkan) pernikahan. Menghibur kedua mempelai. Hal tersebut didasarkan pada hadits dari Muhammad bin Hathib, bahwa Rasulullah  Shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ فِي النِّكَاحِ “Pembeda antara perkara halal dengan yang haram pada pesta pernikahan adalah rebana dan nyanyian (yang dimainkan oleh anak-anak kecil)” Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah  Radhiyallaahu ‘anha , ia pernah mengantar mempelai wanita ke tempat mempelai pria dari kalangan Anshar. Rasulullah  Shallallaahu ‘alaihi wa sallam  berkata, يَا عَائِشَةُ، مَا كَانَ مَعَكُمْ لَهْوٌ؟ فَإِنَّ اْلأَنْصَارَ يُعْجِبُهُمُ اللَّهْوُ “Wahai ‘Aisyah, apakah ada hiburan yang menyertai kalian? Sebab, orang-orang Anshar suka kepada hiburan.” Di dalam sebuah riwayat yang lain, Rasulullah  Shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Apakah k...